Puisi: Lihat di Sana

Lihat di sana....
Ada banyak kisah yang tumpah....
Seperti derai hujan yang baru saja usai mengguyur bumi
Tidakkah itu pertanda rindu?
Bukankah hujan mampu menumbuhkan rindu yang beku?
Bukankah hujan mampu menghanyutkan kita dalam kenangan yang entah dimana ujungnya?

Lihat lagi ke sana...
Tidakkah guyuran hujan tadi membawamu menyelami tiap kenangan yang pernah kau lalui?
Bukankah kadang ada rasa yang tiba-tiba hadir lalu pergi tanpa pamit?

Tetaplah melihat ke sana.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu tak perlu kau jawab
Walau hanya satu.
Cukup pejamkan matamu
Dan ingat padaku......


Malino, 23.10.2016

foto malino
Hasil Foto Kamera Handphone

Puisi: Surat

Jika kau membaca surat-suratku,
Kau akan menemukan kerinduan yang tidak akan habis kau baca....

Di malam kian lelap....
Aku masih setia menyusun kata dari bisikan-bisikan rindu yang entah kapan akan bermuara
Lalu, tak ada siapapun yang akan mampu menghentikannya
Bahkan diriku sendiri.

Jika kau membaca surat-suratku, kau akan menemukan satu nama di dalamnya.
Yaitu namamu....
Dan puisi ini aku tulis dari huruf-huruf namamu yang selalu mengisi ruang di otakku.
Kau menjadi bayangan pada siang dan malamku.

Jika kau membaca surat-suratku, kerinduan-kerinduan itu akan terus mengaliri nadimu.
Aku merasakan hangat pada sekujur tubuhku.
Aku merasakan getar dalam tiap tarikan nafasku.
Aku masih menulis isi surat-suratku.

Jika kau baca surat-suratku, namamu akan tetap bersemayam di sana.
Lalu pada malam yang gigil....
Jiwaku kian tak tertahankan menyusun aksara agar tersusun rapi.
Aku masih menulis.....

Aku dengan segenap aku yang masih merangkai kalimat-kalimat ini.
Jika kau membaca kalimat terakhir dari surat-suratku, tutuplah matamu agar aku tahu jika kau telah usai membacanya.

Jika kau membaca surat-suratku, kau akan menemukan kerinduan yang tak akan habis kau baca....


Gowa, 19.04.2016/Ian Konjo


poster surat

Sebuah Catatan: Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan

Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan adalah sebuah komunitas yang terletak di Dusun Bonto Kura, Desa Bonto Tanga, Kecamatan Bonto Lempangan, Gowa Sulawesi Selatan. Desa yang sangat indah. Bukit-bukit berjejer rapi dan hamparan persawahan yang tertata rapi menyelimuti perbukitannya.

Di sanalah sebuah Komunitas berdiri, membangunkan rumah bagi anak-anak untuk belajar alternatif selain sekolah formal. Uniknya, desa ini tidak banyak dikenali oleh orang di Gowa apalagi sulawesi selatan.

Saat berkunjung untuk melakukan "kelas menulis" bersama Ian Konjo, 27-28 Agustus 2016, kami melihat bahwa jarak desa itu ke Malakaji adalah 20-an KM dan ke arah Makassar sekitar 90-an KM.

Roemah Menulis yang dikelola oleh seorang gadis bernama Bunda Lina, alumni FEIS UNM Makassar ini seolah menjadi malaikat yang membawa cahaya di tangannya. Kegelisahan Lina dengan Roemah Langitnya berawal dari kegelisahannya atas fenomena putus sekolah anak di sana, menikah dini, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan pengembangan diri anak pedalaman.

Roemah Langit memiliki anggota tetap sebanyak 118 orang yang bisanya diajar menari, berpuisi, dan bermusik di rumahnya atau di perbukitan sekitar kampungnya.

Kampung yang indah. Dari sana akan terlihat Gunung Lompo Battang yang tinggi dan hijau menjulang. Awan berarak bagaikan bunga-bunga ragam warna yang harum. Saat ini Bunda Lina sedang merintis Pustaka Rumah Langit untuk membuka wawasan anak-anak di desanya agar dapat membaca buku dan mengenali dunia lebih luas.....

Mereka sangat membutuhkan sumbangan buku bacaan untuk semua usia...... mereka ingin membaca tapi, mereka tidak memiliki buku. mari membantu mereka.


Add FB: Roemah Langit
No Telp. 085 2421 86106

Sebuah catatan Andhika Daeng Mammangka

Di bawah in ada dua video yag kami buat sewaktu berkunjung ke Roemah Langit.

Ini judulnya Puisi Roemah Langit yang dibacakan oleh Sitti Noer Awaliyah.


Yang kedua ini, judulnya Surat Cinta dari Rumah Langit yang dibacakan oleh Rezki. Video ini juga sedang diikutkan lomba. Semoga menang. Amin ya Rabb!

Untuk Indonesiaku

Usiamu kini bertambah lagi
Semoga saja kau tak lelah melihat orang-orang yang mungkin saja melupakanmu.
Aku sering mendengar banyak orang yang bertanya, "Apakah kita benar-benar sudah merdeka?"
Aku seolah tak bisa bicara apa-apa.
Kalimat apa yang harus aku berikan kepada mereka untuk menjawab pertanyaan itu?

Aku semakin gelisah kala melihat banyak orang yang teraniaya di negeri yang damai ini.
Aku semakin gelisah melihat orang-orang menderita kelaparan di negeri yang katanya subur ini.
Aku iba melihat orang yang menghinamu tapi malah diagungkan.
Aku marah melihat orang yang menusukkan belati ke jantungmu dibiarkan begitu saja.
Aku marah melihat orang-orang yang mencintaimu tetapi dikebiri
Lalu, inikah arti merdeka?
Inikah arti damai dan subur?
Inikah arti kemenangan dari sebuah bangsa yang besar??

Dirgahayu Indonesiaku

Indonesiaku, aku tahu ini bukan salahmu
Ini salah orang-orang yang seolah menutup mata tentang cita-citamu
Ini adalah salah orang-orang yang seolah tak pernah belajar tetangmu.
Ini afalah salah orang-orang yang hanya memikirkan kantongnya sendiri.

Oh, Indonesiaku!
Kini kau sudah renta.
Angka 71 itu bukan waktu yang sedikit.
Tahun 45 itu sudah lama berlalu
Lalu, apakah pertanyaan itu harus aku jawab??
Atau aku hanya perlu tersenyum saja lalu kembali menangis mengenangmu???


Gowa, 17-08-2016

Indonesia Pusaka (Musik Instrument) IK Media

Ini bulan kemerdekaan Indonesia tercinta. Ah, kembali mengingat kisah dan cerita-cerita tentang pahlawan-pahlawan yang berjuang mati-matian merebut kemerdekaan yang kini sudah sampai ke angka 71.

Di dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71 ini, saya belajar membuat aransemen lagu Indonesia pusaka.

Selamat mendengarkannya.

Musik oleh Ian Konjo (saya sendiri)

Software:
- FL Studio 11
- Orchestral Edirol
- EZ Drummer
- 4Front Piano
- Cakewal - SI Bass Guitar
- Real PC
- Guitar Rig 5