Puisi: Surat Luka untuk Mantan Kekasihku

.
.
ini adalah serpihan kenangan yang enggan beranjak
bukan kutulis untuk melembabkan luka lama
bukan juga tentang cinta yang memaksa keadaan
apalagi sebuah raungan rindu yang memaksamu meneteskan air mata
.
ini hanyalah sebuah janji yang kutunaikan
saat bunga-bunga matahari masih mekar di antara kesepian kita di musim-musim kesendirian silam, bertahun-tahun silam
.
kau dan kenangan kita memang tak mungkin bisa hilang
aku pernah menukar waktuku dengan sajak-sajak yang kutuliskan untukmu
sajak-sajak yang selalu menyerbakkan wewangian kenangan
sajak-sajak yang selalu kubacakan pada beberapa pengelana cinta yang kutemukan di perjalanan
dia tak mengenalmu
tapi kukisahkan dirimu padanya
dirimu, kekasihku yang telah pergi dengan pertanyaan-pertanyaan cinta yang tak pernah bisa terjawabkan
.
malam larut selalu saja menjelma alarm
membuatku selalu setia membuka sajak-sajak yang pernah kutulis dan kubacakan untukmu
tentang kegilaan perjalanan kabut
ataupun kenekatan mendaki malam kelam yang terjal
demi menemuimu di sudut penuh rindu
menuntaskannya dengan bergelas-gelas teh dari cangkir putih ukuran besar
Andhika Daeng Mammangka
Andhika Daeng Mammangka
kadang aku ingin melawan norma sosial dan agama
datang ke rumahmu dan mengajakmu berpetualang
sebuah mimpi yang tak mungkin kudoakan menjadi nyata
itu melukai kenyataan hidupmu hari ini
jadi aku menyimpan saja harapan itu
bukan untuk menumbuhkan harapan hidup bersama
hanya ingin menguji nama dan kisahmu pada waktu serta janji yang kau hembuskan pada angin malam di tahun-tahun silam
.
jangan biarkan jantungmu berdegup keras membaca surat ini
jangan pula membuat napasmu terengah-engah
apalagi garus meneteskan air mata
itu tidaklah berguna di usia tua ini
.
aku hanya ingin memastikan
bahwa sajak itu masih ada di dalam ingatanmu
sebab aku setia menghidupkannya untuk diriku
sebagai kenangan masa silam yang selalu punya ceritanya sendiri di hari ini
.
surat ini memang mengisahkan luka
tapi bukan untuk menghiba agar kau kembali
ini hanyalah sebuah kunci kenangan yang terlipat rapi dalam laci ingatanku
.
aku tak akan bergeming untuk selalu setia mencintaimu
seperti sajak-sajakku yang melakukan pengakuan kala itu
hanya saja
cinta ini telah menjadi kabut
hanya dirasa dan dilihat
tapi, tak bisa lagi dilipat dan digenggam lalu dibawa pulang
.
apa kabarmu kekasihku?
aku masih di sini
membuka lembaran sajak-sajak itu
dan terus mencintaimu
begitu saja
.
.
.
Makassar/6/6/17
---------------------------------
Selamat berpuasa, kawan-kawan revolusioner sekalian, semoga puisi ini mewakili kata hati anda yang mungkin takut dinyatakan. dan tetap setia di garis kesadaran bahwa cinta janganlah dibuang, karena jika itu terjadi, keadilan tak akan pernah datang dan kesedihan hanyalah menjadi tontonan (bongkar).

Catatan: Pengakuan

Memulai menulis ini, aku akan sedikit tertawa mengingat kata-kata yang diucapkan seorang teman malam tadi. Meski harusnya itu adalah doa. Tetapi entah mengapa, ada yang menggelitik dari kalimatnya itu. Aku tak perlu memberitahu kalimatnya. Tidak apa-apa kan? Kita anggap saja itu adalah sebuah lelucon menjelang pergantian tahun masehi ini. Atau anggap saja sebuah kalimat penyemangat menuju tahun yang baru untuk sebuah awal yang baru. Aku rasa ini akan lebih menarik untuk kukatakan.

Catatan: Pengakuan

Aku ingin sedikit mengingat perjalananku dalam hidup ini dari beberapa tahun yang lalu. Mungkin tahunnya akan sedikit jauh ke belakang. Dan di tahun masehi ini adalah kali pertama kulakukan itu. Mungkin karena aku tak terbiasa memperingatinya seperti kebanyakan orang. Bagiku, memperingati pergantian tahun seperti ini hanyalah sebuah kesia-siaan jika yang kita lakukan bukan hal mendekatkan diri kepada sang pemilik kuasa dan bersyukur atas roh yang masih belum diambil-Nya. Memperingati pergantian tahun dengan menghamburkan uang lalu menghiasi langit dengan cahaya yang berwarna warni. Suara motor yang sengaja dimodifikasi hingga memekakkan telinga, setelah itu balap-balapan tak jelas. Berteriak sekencang-kencangnya. Atau membakar kembang api di tengah jalan dan mengganggu penguna jalan yang melintas.

Ini bukanlah sebuah ceramah. Hanya sekedar mengingatkan saja. Pergantian dari waktu ke waktu adalah sebuah tanda bahwa dunia semakin renta. Kita tak akan pernah bisa kembali ke hari kemarin dan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok.

Tahun-tahun yang berlalu adalah sebagian dari kenangan-kenangan yang mengisi perjalan hidup ini. Aku bersyukur satu hal hari ini. Bahwa tak ada yang lebih membahagiakan dari keceriaan yang masih melekat erat. Senyum yang tulus dan orang-orang yang peduli padaku. Meski kadang ada yang melukai perasaan dan juga melukai hati. Tapi bukankah sesungguhnya kehidupan ini memang seperti itu? Bukankah indahnya kehidupan itu ketika kita masih bisa merasakan luka, duka, perih, suka, air mata dan tawa? Bukankah hidup itu memang penuh gelombang dan lika liku?

Tahun-tahun berlalu itu adalah sketsa dari sekian banyak kenangan yang berjejak. Yang pahit, perih dan duka telah kujadikan salah satu guru terbaik untuk belajar menjadi lebih baik. Menjadi orang yang menghargai kebahagiaan yang ada. Menjadi orang yang tetap menjaga apa yang telah kumiliki.

Selalulah bersyukur. Milikilah hati yang selalu merasa cukup karena sesunguhnya itulah orang yang paling kaya dan bahagia.

Selalulah memiliki cinta. Kau bisa mempelajari semua hal tentang apa yang kau kerjakan dari buku-buku. Tetapi saat kau menjalaninya tanpa cinta, ia akan mengadukmu seperti dunia yang terus berputar. Cinta akan tetap menjaganya menjadi penyemangat saat dia akan terjatuh.

Selalulah tetap menjadi baik.


Gowa, 1.1.2017
Cat. tidak diedit

Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya

Seperti biasanya, lagi-lagi mataku susah terpejam
Kepala sedikit tak bersahabat sejak sepulang kerja
Entah apa sebabnya, aku tak tahu
.
.
Aku ingin bertatap denganmu
Aku ingin menuntaskan rinduku
Tetapi, aku tahu jika itu sesuatu yang amat sulit
Bahkan pertemuan sebagai sesuatu yang bisa jadi penawar rindu itu
Pertemuan memang bisa jadi penawar atas semua rinduku yang kini bersemayam pada satu ruang hatiku
Tetapi aku takut
Sangat takut untuk menatapmu
Bukan karena pertemuan itu yang kutakutkan
.
.
Aku takut jika setelah pertemuan kita,
Akan lahir kerinduan lain karena sejatinya pertemuan itu menitipkan benih-benih kerinduan lain
Dan pertemuan kita hanya akan menumbuhkan kerinduan-kerinduan baru yang mungkin saja lebih dahsyat
.
.
Mungkin rindu ini kian lama akan terasa menyebalkan
Tapi untukmu, rangkaian kata sebanyak apapun tak akan pernah habis terangkai
.
.
Kau adalah penanda dari rinduku
Rindu yang tak pernah kau tarik kembali
Dan sajak inilah reingkarnasi rinduku yang benar-benar utuh
Kau adalah pemiliknya
Meski tiap kata yang kutulis hanyalah bagian-bagian kecilnya saja
.
.
.
Gowa, 17.12.2016

Tentang Rindu

Seperti malam, tak ada yang salah dengan dinginnya
Atau seperti angin yang kadang riuh menerpa dedaunan yang basah
Dan sebuah cerita baru saja dimulai
.
.
Ini seperti sebuah kisah besar yang bermula dari kisah kecil kenanganku
Yang telah menjelma menjadi gunung
Menjulang tinggi hingga aku tak melihat apa-apa selain awan yang indah dan guratan senyummu
Wajahmu, kini selalu membayang pada kelopak mataku

Tentang Rindu

Seperti hujan, tak ada yang salah jika tiba-tiba ia datang dengan derasnya
Atau seperti aku yang tiba-tiba jatuh cinta
Dan sebuah kisah kini dimulai
.
.
Ini seperti menemukan kembali jalan baru untuk kulalui
Jalan yang selalu kuabaikan adanya hingga aku tak menyadari bahwa ada rindu yang diam-diam tumbuh di hatiku
.
.
Seperti matahari, tak ada salahnya jika teriknya terlalu menusuk
Atau seperti senyummu yang perlahan memenuhi ruang pikiranku
Dan kisah ini semua hanya tentangmu.
.
.
Gowa, 14.12.2016

Senyummu Pada Mataku

Senyummu Pada Mataku


kepada perempuan dengan senyum manis
.
.
Hujan masih belum reda sejak siang kemarin
Malam menjelma dingin yang menusuk seperti rindu
Perlahan kantuk mulai menggoda
Mataku berulang kali meminta tuk dipejamkan
Barangkali jenuh menunggu bulan yang tak juga bersinar
.
Tetapi, tidak!
Aku memutuskan untuk tetap terjaga dan menuntaskan ini untukmu
Rasanya tak tenang jika belum kutuliskan
.
.
Tentang malam ini, aku sengaja tak menutup pintu rumah
Aku tak peduli dinginnya sebab aku percaya jika rindu akan menghangatkanku
Aku tak peduli derai hujan yang semakin betah bercumbu dengan bumi
Sebab aku yakin jika rindu akan menenggelamkan rinainya
.
.
Tentang rinduku pada dingin yang menggunung
Dan malam yang semakin pekat
Aku ingin menuntaskan rasaku segera
Tetapi rinai-rinai hujan yang jatuh itu seakan membawa rindu-rindu baru di tiap butirnya
Aku tertikam olehnya.
.
.
Sesekali kutatap cahaya lampu jalan di ujung lorong
Sinarnya seperti kerinduan yang tak padam walau sederas apapun hujan menerpanya
Ia tetap bercahaya seperti senyummu pada mataku
.
.
Sebelum kupejamkan mataku, ada namamu yang kusebut.
.
.
Gowa, 13.12.2016